Hai hai.. Lama sudah ga nulis di blog.. Hehehehe
Sekedar reminder saja, sekarang aku sudah masuk ke semester 5 perkuliahanku loh J
Aku berhasil masuk ke peminatan yang aku prioritaskan, yaitu Interactive Multimedia.. Hehehe
Oke, sekarang masuk ke topik pribadi..
Beberapa hari yang lalu, aku sempet drop.. Yah, drop dalam artian kurang fit (sekarang pun masih belum begitu fit L)
Terus, hari ini sih yang lebih menyedihkan. Hari ini aku melanggar dan menepati janji yang udah aku buat sama Tuhan.
Apa aja sih janjinya ??
Hm.. Mulai dari yang ditepati dulu kali ya (tapi penjelasannya ga akan begitu jelas sih).
Yupz, aku pernah janji sama Tuhan bahwa aku ga akan mengeluh ketika aku harus merasakan saat-saat yang tidak bahagia dan menyakitkan asalkan orang yang paling aku sayangi di dunia ini (tebak sendiri siapa) bisa bahagia. Hari ini mungkin salah satu hari pembuktiannya. Hari ini tergolong sebagai hari yang cukup berat sih menurutku dan aku bersyukur karena aku boleh menepati janji ini, yaitu ga mengeluh.
Tapi di sisi lain, ada janji juga yang aku langgar..
Dulu, aku pernah berjanji satu hal pada Tuhan. Isinya kira-kira begini :
“Tuhan, tolong pertemukan aku dengan orang yang benar-benar menyanyangiku. Aku janji, aku ga akan nyakitin dia.”
Dan hari ini, janji ini rusak sudah.. Aku mengecewakan seseorang yang ‘mungkin’ menyanyangiku (belajar dari pengalaman : jangan pernah terlalu percaya pada orang lain, terutama cowok).
Aku tahu aku bukan orang yang baik buat dia. Aku bukan orang yang tepat buat dia.
Dia memerlukan seseorang yang lembut, bisa mengungkapkan perasaannya seketika itu juga, dan yang peka. Sedangkan aku, ah, sangat jauh dari semua itu.
Aku bukan seseorang yang lembut, malah bisa dibilang aku kasar dan terkadang sangat menyebalkan, ga ada sifat ceweknya. Hahahaha
Aku juga bukan tipe orang yang gampang mengungkapkan apa yang aku rasakan. Walaupun hasil test menunjukkan bahwa aku adalah tipe ekstrovert, soal perasaan aku bisa jadi sangat introvert, terutama jika itu adalah perasaan yang negatif. Mungkin ini juga pengaruh lingkungan. Di keluargaku, kami jarang mengungkapkan perasaan kami, apalagi perasaan negatif. Jadi, yah, aku juga begini deh..
Next, peka.. Wuih, yang satu ini jelas sangat tidak mirip denganku. Aku bukan orang yang peka dengan perasaan orang lain. Ketika seseorang merasa sedih atau kecewa atau marah padaku, jangan harap aku akan langsung menghiburnya atau meminta maaf padanya. Aku akan membiarkannya dulu agar ia bisa menenangkan diri. Setelah itu, baru aku ajak bicara. Tapi kalau pun dia tak mau bicara, aku tak akan memaksanya bicara. Aku pun akan ikut diam seribu bahasa dan aku pasti akan sangat kesal karena usaha ku untuk mengajaknya bicara tak digubris. Bahkan, kalau kekesalanku sudah cukup tinggi, aku bisa mendiamkan orang itu sekalipun ia sudah membuka suara. Yupz, devil mode is ON.
Intinya, hari ini aku melanggar janji (seseuatu yang sangat sakral menurutku) dan aku pun sudah sangat jahat pada seseorang itu. Entah aku layak untuk dimaafkan atau tidak..
Yang jelas, aku merasa ga tenang dan sekarang, kepala ku berdenyut-denyut seperti hendak meledak.. mungkin ini teguran dari Tuhan yaa.. Hahahaha
Ya, setelah menulis ini, perasaanku yang tadinya kacau balau sudah mulai terkendali. Terima kasih Tuhan karena aku masih bisa mengungkapkan perasaanku melalui tulisan J